Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kuasa

Batas paling nyata adalah kuasa; menghasilkan kalut yang saling berbenturan, hingga menuai tangis berkepanjangan. Paradigma seolah tak berfungsi, akibat asa yang ada begitu menggelora. Dua bentuk insan berpapasan di simpang jalan, bertegur sapa seraya takdir memang memihak. Ternyata, kekeliruanlah yang menjelma. Lalu, salah-menyalahkan menjadi pilihannya. Entah satu atau dua, Yang jelas ada yang terluka. Mengambil spasi mungkin jadi opsi, Tapi menyakiti jangan sampai terjadi. Spasi dibentuk demi menyelaraskan kekeliruan, Kalau-kalau ternyata tidak ada yang keliru, hapus saja spasinya. Itu pun, kalau keyboardnya masih lengkap. Catatannya; pelajari dulu kekeliruannya, Perihal spasi, serahkan pada ahlinya --kuasa--

Ekspresi milikku.

Dalam hidup ini, ada berbagai bentuk gaya dalam berekspresi. Terserah kepadamu, pilih yang mana. Kalau aku, bentuk ekspresi favoritku adalah menjadi ekstra; (.)Senang, ekstra senang. (.)Marah, ekstra marah. (.)Kecewa, ekstra kecewa. (.)Sedih, ekstra sedih. Bentuk-bentuk ini sama, tapi dampaknya berbeda. Bentuk-bentuk ini terjadi karena aku tak pandai memilih. Favorit bagiku, belum tentu baik untukku. . Aku menjadi ekstra senang ketika bahagia muncul. Padahal, belum tentu ia menetap. Aku menjadi ekstra marah ketika keadaan memburuk. Padahal mungkin, ia hanya ingin menyapa. Aku menjadi ekstra kecewa ketika sesuatu terjadi di luar ekspektasi. Padahal mungkin, ia ingin memberi pelajaran. Aku menjadi ekstra sedih ketika yang aku punya pergi dan diambil. Padahal bisa jadi, itu memang bukan untukku. . Semua bentuk ekspresi di atas adalah caraku merespon. Kalau kita bertemu dan kamu ingin jauh mengenalku, tolong pelajari hal-hal yang aku sebutkan di atas. Setelah itu, mari ...

November, lagi.

Halo, November. Ada apa ya? Kok sepertinya sensi sekali denganku? . Mungkin, bagi beberapa makhluk di bumi ini kamu istimewa. Aku ga mau egois. Biar apa yang menjadi hak mereka, tetap hak mereka. Tapi, sebagai bagian dari makhluk di bumi, aku pun punya hak. Hak ku adalah membencimu. . Selama hampir 19 kali aku bertemu dengamu, rasanya kamu tidak pernah mengecewakan. Tapi, kenapa kemarin dan saat ini kamu menjadi menjengkelkan untukku? . Aku tidak pernah menghendaki apapun yang akan dan sedang terjadi padaku. Sebab aku tahu, itu kuasa Tuhan. Yang aku ingin tahu adalah, apa maksudnya? Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti memiliki maksud. . Bertemu dengan bentuk-bentuk ciptaannya yang lain membuatku merasakan hal-hal baru. Sayangnya, itu tidak pernah berlangsung lama. Ada saja dinding yang menghalangi. . Apakah semua dinding itu memang ditujukan untuk aku pelajari? Agar aku bisa kembali bertemu dengan November yang membahagiakan? . Semoga seiring No...

Selamat Ulang Tahun, diriku.

Hari ini aku bertemu diriku. Kutanya apa yang ia bawa, lalu jawabnya; Sejuta harap, sejuta mimpi. Jauh dalam kepala diriku tersimpan lubang yang membuat sesak. Di lain tempat, ada goresan-goresan kecil yang sepertinya mulai tampak. Persoalannya, bukan pada siapa yang membuat. Tapi, adakah jalan untuk membuatnya menjadi semula? Selain itu, jangan lupakan soal beban-beban tak ringan yang duduk di pundak. Ingat pula soal wajah-wajah tak muda berupaya menanti di tempat. . Untuk soal-soal itu, diriku butuh harap, butuh mimpi. Bukan satu, tapi sejuta. . Jadi.. dari yang terdalam, diriku mohon... bantu kabulkan. Setidaknya, jadilah kuat. Untuk menahan lubang, goresan dan beban yang semakin tak karuan. . Karena dasarnya, pada siapa diriku mengadu kalau bukan kepada aku? Pada siapa diriku mengeluh kalau bukan aku? . Selamat ulang tahun diriku, jadi lah apa yang membuatmu bahagiađź’– - 12 Agustus, Setiabudi -

bentuk nyata, upaya suara.

bentuk itu ada dan tiada. bersemayam di batas dinding, mencari celah untuk bermukim. suara itu nyaring berupaya, menyeruak sampai atap namun yang tertinggal hanya gumam butuh waktu untuk memanggilnya butuh siap untuk mencobanya perihal diam, aku jagonya perihal takut, aku juaranya - 09 Agustus, Jl. Bunga -

Kota Pikiranku

saat ini kota pikiranku kacau, puing-puing pikiran baik behamburan, papan-papan aturan bertabrakan, bahkan rambu-rambu norma berjatuhan akhir-akhir ini, aku berusaha sangat keras. membuang apa yang seharusnya dibuang, meninggal apa yang seharusnya ditinggal. mulanya memang semangatku yang menang, hati dan pikiran sejalan, tapi, kian hari mereka menunjukkan apa yang benar-benar mereka rasakan, sampai akhirnya membuat sadar, bahwa memaksa bukanlah jalan perihal membuang dan meninggal, semua ada masanya memaksa untuk membuang, malah membuatnya semakin meninggal dan memaksa untuk meninggal, malah membuatnya semakin mengekal akhir kata, dari apa yang terjadi pada kota pikiranku ini, harapku adalah semoga tidak ada lagi yang pernah memaksa, memaksa bukanlah jalan, cari jalanmu sendiri, jika mencintai saja butuh waktu, apalagi melupakan  :)

Surat, untukmu.

Mulanya, mungkin November. Aku mengenalmu penuh seluruh. Menyapa hangat, berharap dapat sambut. Tak kusangka, salam saling bersahut. Lagi, dan lagi, Aku kembali seperti diriku, jatuh pada saat pertama. Tak pernah malu akan apa-apa. Kamu? Membalas seadanya :) Harapku kian jadi, Aku berjalan ke mana-mana, Menghampiri apa pun yang menjadi tujuanmu. Rasanya kian tak terbendung, Ingin sekali bertatap, Tapi, Jarak tampak sangat lebar, menutup segala kemungkinan yang muncul. Desember, tak ada apa-apa. Hanya obrolan tak penting yang sebenarnya memang tak penting! Januari, ada apa-apa. Kamu berjalan ke arahku, Aku tahu, Mungkin kamu pikir aku tidak tahu? Atau mungkin kamu tidak memikirkan aku? Bisa jadi keduanya. Ke arahku, bukan berarti menghampiriku, Hanya saja jaraknya semakin mengecil. Tapi, Tak ada percakapan saat itu. Bodoh. Menyesal. Februari, aku pergi. Aku tahu, ini hanya tentang aku. Aku sadar, aku terlal...

Aku dan Kerumitanku

Terkadang, aku menjadi rumit karena pelik. Dan itu terjadi tanpa kusadari. Pikirku; jalan yang kutapaki masih sama dengan yang lain. Tapi ternyata aku belok, ke arah pelik itu. Banyak yang muncul sejak aku salah. Tapi yang nampak jelas adalah tangis, takut, dan marah. Mencoba balik tidak mungkin. Berjalan terus, mereka semakin menjadi. Anehnya, sejauh apapun aku melangkah, yang kutemui hanya diriku sendiri. Sungguh amat sangat rumit bukan? Pernah aku mencoba berhenti sejenak, melihat apa yang sudah aku hadapi dan menimbang apa yang aku bawa. Tau apa yang terjadi? Tangisku justru berubah menjadi pekik. Aku memprediksi, aku tak bisa lebih jauh lagi. Sesekali aku menangis tersedu mengingat apa yang pernah terjadi. Mencoba mengingat bagian mana yang sebenarnya menjadi akhir. Saat itu, tak pernah ada ucap pisah antara kita. Waktu lah yang mengambil bagiannya. Kalian dengan kenyamanan kalian. Dan aku dengan kerumitanku. Untuk kalian yang menyadari, temuilah aku di ujung p...

Risau Membuat Protes, Protes Membuat Risau

    Negeriku adalah negeri yang penuh kontroversi. Bukan karena banyak jenisnya, tetapi karena banyak maunya—mungkin. Padahal, negeriku dibangun atas dasar kebutuhan bukan hanya kemauan. Apa mereka lupa dengan yang menjadi mulanya? Atau mereka tak mau ingat karena itu bukan urusan mereka? Rasanya tak perlu lagi aku ulang. Lebih baik aku ajak kalian berkelana mengenal kerisauanku.        Kerisauanku, aku menyebutnya si protes. Protes ini mulutnya besar, tapi hati dan pikirannya kecil. Heran aku juga. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ketika ada makhluk yang mau membawa perubahan kepada negeriku, eh malah dicaci maki olehnya? Contoh: jalan di negeriku sedang diperbaiki, dibuat menjadi lebih baik setara dengan namanya yang semakin melejit. Lalu, muncul si protes dengan template kalimat: “percuma kalau.. percuma kalau..” padahal, jalan itu masih dalam tahap ‘proses’ kenapa kamu—protes— seolah bisa meramal apa yang akan terjadi? Hidupmu semembo...