Langsung ke konten utama

Risau Membuat Protes, Protes Membuat Risau

    Negeriku adalah negeri yang penuh kontroversi. Bukan karena banyak jenisnya, tetapi karena banyak maunya—mungkin. Padahal, negeriku dibangun atas dasar kebutuhan bukan hanya kemauan. Apa mereka lupa dengan yang menjadi mulanya? Atau mereka tak mau ingat karena itu bukan urusan mereka? Rasanya tak perlu lagi aku ulang. Lebih baik aku ajak kalian berkelana mengenal kerisauanku.   

    Kerisauanku, aku menyebutnya si protes. Protes ini mulutnya besar, tapi hati dan pikirannya kecil. Heran aku juga. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ketika ada makhluk yang mau membawa perubahan kepada negeriku, eh malah dicaci maki olehnya? Contoh: jalan di negeriku sedang diperbaiki, dibuat menjadi lebih baik setara dengan namanya yang semakin melejit. Lalu, muncul si protes dengan template kalimat: “percuma kalau.. percuma kalau..” padahal, jalan itu masih dalam tahap ‘proses’ kenapa kamu—protes— seolah bisa meramal apa yang akan terjadi? Hidupmu semembosankan itu kah sampai kamu terlihat frustasi? Semoga saja tidak, ya.

   Aku punya contoh lain. Negeriku memiliki banyak sekali makhluk. Tak heran jika untuk mendapatkan sesuatu mereka harus berebut. Semuanya serba ada di negeriku, tetapi hanya si protes ini lah yang menganggap negeriku miskin. Karena apa? Karena mereka tidak mau berusaha menggapainya alias malas. Mungkin harus kutambahkan ciri si protes ini, yaitu; pemalas. Bagaimana mungkin kamu—protes— bisa setara dengan makhluk lain kalau kamu tidak berbuat hal yang sama dengan mereka? Apa kamu hanya bisa mengandalkan mulutmu yang besar itu untuk menyalahkan makhluk di atasmu?

    Sebenarnya aku tidak terlalu punya banyak masalah dengan si protes. Hanya jika, ia mampu menempatkan posisinya sebagaimana mestinya. Dan sebagaimana mestinya itu adalah; ia bersuara ketika ada yang salah dengan makhluk di atasnya, ketika ada yang melenceng dari negeriku. Perbuatan yang membawa perubahan positif bagi orang banyak, bukankah perbuatan baik? Apa yang membuat itu buruk? Aku tebak! Jangan-jangan itu karena hatimu! Hehe. Bolehkan aku memberi sedikit saran, wahai protes? Saranku adalah; mulai sekarang, belajarlah untuk menghargai apa yang diusahakan setiap makhluk di muka bumi ini, bukan hanya negeriku. Tanamkanlah hal-hal positif dalam hati dan pikiranmu itu, agar menjadi sedikit lebih terbuka. Setiap makhluk, memilki hak untuk dihargai. Dan juga; perbanyaklah usahamu. Kalau kamu tidak mendapatkan apa yang kamu mau, jangan salahkan sepenuhnya kepada makhluk lain, karena bisa jadi itu karena dirimu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada sang tuan, yang masih punya ruang di sini

November, 2020. Kalau boleh diskusi ulang dengan Tuhan, Sepertinya aku akan minta untuk sakit hati lebih panjang daripada memulai semuanya dengan Tuan Sebab, ku kira Tuan itu obatku, Ku kira aku akan sembuh, Dan ku kira, itu jadwalnya aku bisa tumbuh dan merasa lebih baik Tapi ternyata, aku terburu-buru Meng-'iya'-kan semuanya tanpa menunggu resep dari Tuhan Memang, awalnya bisa lebih baik, Sakitnya sedikit hilang,  Tapi, ternyata setelah beberapa kali mencoba, Ada beberapa efek yang membuatku berpikir bahwa obat itu bukan untuk aku Terus mencoba bersabar menunggu,  Seraya berpikir barangkali ada perbaikan Tapi, sepertinya aku memang harus lebih banyak berdiskusi dengan Tuhan. Apa memang Tuan ini obat yang ia kirim?  Atau aku harus mencobanya dulu sebelum dikasih obat yang sebenarnya? Terlepas dari apa yang Tuhan rencanakan, Kepercayaan dalam diriku sudah terbentuk begitu lama Meski sadar diri bisa salah,  tapi aku masih tetap percaya kalau Tuan bisa menyembuhkan, ha...

Pola Malam

Malam ini, malam ke 207968309732173097 Malam yang polanya terus berulang Namun celakanya, tidak ada yang tau bagaimana caranya menjadi pasti Semua terkotak dengan ruangnya sendiri Berjuang menghadapi semu yang kian hari, kian membuat jemu Tak terhitung berat air yang tertampung Tak terlihat raut rupa yang terbentuk Satu persatu menjadi sama, Hingga semuanya tampak serupa Beberapa kali aku mencari obat Agar setidaknya bisa berhenti walau sesaat, Tapi, memang dasar racunnya terlalu kuat Sampai pada akhirnya, pola yang sama kembali berkutat Persetan, kau malam! Sudahlah, Sampai jumpa Di ruang rindu, kita bertemu.

Ekspresi milikku.

Dalam hidup ini, ada berbagai bentuk gaya dalam berekspresi. Terserah kepadamu, pilih yang mana. Kalau aku, bentuk ekspresi favoritku adalah menjadi ekstra; (.)Senang, ekstra senang. (.)Marah, ekstra marah. (.)Kecewa, ekstra kecewa. (.)Sedih, ekstra sedih. Bentuk-bentuk ini sama, tapi dampaknya berbeda. Bentuk-bentuk ini terjadi karena aku tak pandai memilih. Favorit bagiku, belum tentu baik untukku. . Aku menjadi ekstra senang ketika bahagia muncul. Padahal, belum tentu ia menetap. Aku menjadi ekstra marah ketika keadaan memburuk. Padahal mungkin, ia hanya ingin menyapa. Aku menjadi ekstra kecewa ketika sesuatu terjadi di luar ekspektasi. Padahal mungkin, ia ingin memberi pelajaran. Aku menjadi ekstra sedih ketika yang aku punya pergi dan diambil. Padahal bisa jadi, itu memang bukan untukku. . Semua bentuk ekspresi di atas adalah caraku merespon. Kalau kita bertemu dan kamu ingin jauh mengenalku, tolong pelajari hal-hal yang aku sebutkan di atas. Setelah itu, mari ...