Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2019

Surat, untukmu.

Mulanya, mungkin November. Aku mengenalmu penuh seluruh. Menyapa hangat, berharap dapat sambut. Tak kusangka, salam saling bersahut. Lagi, dan lagi, Aku kembali seperti diriku, jatuh pada saat pertama. Tak pernah malu akan apa-apa. Kamu? Membalas seadanya :) Harapku kian jadi, Aku berjalan ke mana-mana, Menghampiri apa pun yang menjadi tujuanmu. Rasanya kian tak terbendung, Ingin sekali bertatap, Tapi, Jarak tampak sangat lebar, menutup segala kemungkinan yang muncul. Desember, tak ada apa-apa. Hanya obrolan tak penting yang sebenarnya memang tak penting! Januari, ada apa-apa. Kamu berjalan ke arahku, Aku tahu, Mungkin kamu pikir aku tidak tahu? Atau mungkin kamu tidak memikirkan aku? Bisa jadi keduanya. Ke arahku, bukan berarti menghampiriku, Hanya saja jaraknya semakin mengecil. Tapi, Tak ada percakapan saat itu. Bodoh. Menyesal. Februari, aku pergi. Aku tahu, ini hanya tentang aku. Aku sadar, aku terlal...

Aku dan Kerumitanku

Terkadang, aku menjadi rumit karena pelik. Dan itu terjadi tanpa kusadari. Pikirku; jalan yang kutapaki masih sama dengan yang lain. Tapi ternyata aku belok, ke arah pelik itu. Banyak yang muncul sejak aku salah. Tapi yang nampak jelas adalah tangis, takut, dan marah. Mencoba balik tidak mungkin. Berjalan terus, mereka semakin menjadi. Anehnya, sejauh apapun aku melangkah, yang kutemui hanya diriku sendiri. Sungguh amat sangat rumit bukan? Pernah aku mencoba berhenti sejenak, melihat apa yang sudah aku hadapi dan menimbang apa yang aku bawa. Tau apa yang terjadi? Tangisku justru berubah menjadi pekik. Aku memprediksi, aku tak bisa lebih jauh lagi. Sesekali aku menangis tersedu mengingat apa yang pernah terjadi. Mencoba mengingat bagian mana yang sebenarnya menjadi akhir. Saat itu, tak pernah ada ucap pisah antara kita. Waktu lah yang mengambil bagiannya. Kalian dengan kenyamanan kalian. Dan aku dengan kerumitanku. Untuk kalian yang menyadari, temuilah aku di ujung p...

Risau Membuat Protes, Protes Membuat Risau

    Negeriku adalah negeri yang penuh kontroversi. Bukan karena banyak jenisnya, tetapi karena banyak maunya—mungkin. Padahal, negeriku dibangun atas dasar kebutuhan bukan hanya kemauan. Apa mereka lupa dengan yang menjadi mulanya? Atau mereka tak mau ingat karena itu bukan urusan mereka? Rasanya tak perlu lagi aku ulang. Lebih baik aku ajak kalian berkelana mengenal kerisauanku.        Kerisauanku, aku menyebutnya si protes. Protes ini mulutnya besar, tapi hati dan pikirannya kecil. Heran aku juga. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, ketika ada makhluk yang mau membawa perubahan kepada negeriku, eh malah dicaci maki olehnya? Contoh: jalan di negeriku sedang diperbaiki, dibuat menjadi lebih baik setara dengan namanya yang semakin melejit. Lalu, muncul si protes dengan template kalimat: “percuma kalau.. percuma kalau..” padahal, jalan itu masih dalam tahap ‘proses’ kenapa kamu—protes— seolah bisa meramal apa yang akan terjadi? Hidupmu semembo...