Langsung ke konten utama

Selamat Ulang Tahun, diriku.


Hari ini aku bertemu diriku.
Kutanya apa yang ia bawa, lalu jawabnya;
Sejuta harap, sejuta mimpi.

Jauh dalam kepala diriku tersimpan lubang yang membuat sesak.
Di lain tempat, ada goresan-goresan kecil yang sepertinya mulai tampak.
Persoalannya, bukan pada siapa yang membuat. Tapi, adakah jalan untuk membuatnya menjadi semula?
Selain itu, jangan lupakan soal beban-beban tak ringan yang duduk di pundak.
Ingat pula soal wajah-wajah tak muda berupaya menanti di tempat.
.
Untuk soal-soal itu, diriku butuh harap, butuh mimpi. Bukan satu, tapi sejuta.
.
Jadi..
dari yang terdalam, diriku mohon...
bantu kabulkan.
Setidaknya, jadilah kuat. Untuk menahan lubang, goresan dan beban yang semakin tak karuan.
.
Karena dasarnya, pada siapa diriku mengadu kalau bukan kepada aku? Pada siapa diriku mengeluh kalau bukan aku?
.
Selamat ulang tahun diriku, jadi lah apa yang membuatmu bahagiađź’–

- 12 Agustus, Setiabudi -

Komentar

  1. Puisinya bagus, semoga selalu lancar dalam menarikan diksi ya, Za🔥

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada sang tuan, yang masih punya ruang di sini

November, 2020. Kalau boleh diskusi ulang dengan Tuhan, Sepertinya aku akan minta untuk sakit hati lebih panjang daripada memulai semuanya dengan Tuan Sebab, ku kira Tuan itu obatku, Ku kira aku akan sembuh, Dan ku kira, itu jadwalnya aku bisa tumbuh dan merasa lebih baik Tapi ternyata, aku terburu-buru Meng-'iya'-kan semuanya tanpa menunggu resep dari Tuhan Memang, awalnya bisa lebih baik, Sakitnya sedikit hilang,  Tapi, ternyata setelah beberapa kali mencoba, Ada beberapa efek yang membuatku berpikir bahwa obat itu bukan untuk aku Terus mencoba bersabar menunggu,  Seraya berpikir barangkali ada perbaikan Tapi, sepertinya aku memang harus lebih banyak berdiskusi dengan Tuhan. Apa memang Tuan ini obat yang ia kirim?  Atau aku harus mencobanya dulu sebelum dikasih obat yang sebenarnya? Terlepas dari apa yang Tuhan rencanakan, Kepercayaan dalam diriku sudah terbentuk begitu lama Meski sadar diri bisa salah,  tapi aku masih tetap percaya kalau Tuan bisa menyembuhkan, ha...

Pola Malam

Malam ini, malam ke 207968309732173097 Malam yang polanya terus berulang Namun celakanya, tidak ada yang tau bagaimana caranya menjadi pasti Semua terkotak dengan ruangnya sendiri Berjuang menghadapi semu yang kian hari, kian membuat jemu Tak terhitung berat air yang tertampung Tak terlihat raut rupa yang terbentuk Satu persatu menjadi sama, Hingga semuanya tampak serupa Beberapa kali aku mencari obat Agar setidaknya bisa berhenti walau sesaat, Tapi, memang dasar racunnya terlalu kuat Sampai pada akhirnya, pola yang sama kembali berkutat Persetan, kau malam! Sudahlah, Sampai jumpa Di ruang rindu, kita bertemu.

Ekspresi milikku.

Dalam hidup ini, ada berbagai bentuk gaya dalam berekspresi. Terserah kepadamu, pilih yang mana. Kalau aku, bentuk ekspresi favoritku adalah menjadi ekstra; (.)Senang, ekstra senang. (.)Marah, ekstra marah. (.)Kecewa, ekstra kecewa. (.)Sedih, ekstra sedih. Bentuk-bentuk ini sama, tapi dampaknya berbeda. Bentuk-bentuk ini terjadi karena aku tak pandai memilih. Favorit bagiku, belum tentu baik untukku. . Aku menjadi ekstra senang ketika bahagia muncul. Padahal, belum tentu ia menetap. Aku menjadi ekstra marah ketika keadaan memburuk. Padahal mungkin, ia hanya ingin menyapa. Aku menjadi ekstra kecewa ketika sesuatu terjadi di luar ekspektasi. Padahal mungkin, ia ingin memberi pelajaran. Aku menjadi ekstra sedih ketika yang aku punya pergi dan diambil. Padahal bisa jadi, itu memang bukan untukku. . Semua bentuk ekspresi di atas adalah caraku merespon. Kalau kita bertemu dan kamu ingin jauh mengenalku, tolong pelajari hal-hal yang aku sebutkan di atas. Setelah itu, mari ...