Terkadang,
aku menjadi rumit karena pelik. Dan itu terjadi tanpa kusadari. Pikirku; jalan
yang kutapaki masih sama dengan yang lain. Tapi ternyata aku belok, ke arah
pelik itu. Banyak yang muncul sejak aku salah. Tapi yang nampak jelas adalah tangis,
takut, dan marah. Mencoba balik tidak mungkin. Berjalan terus, mereka semakin
menjadi. Anehnya, sejauh apapun aku melangkah, yang kutemui hanya diriku
sendiri. Sungguh amat sangat rumit bukan?
Pernah
aku mencoba berhenti sejenak, melihat apa yang sudah aku hadapi dan menimbang
apa yang aku bawa. Tau apa yang terjadi? Tangisku justru berubah menjadi pekik.
Aku memprediksi, aku tak bisa lebih jauh lagi.
Sesekali
aku menangis tersedu mengingat apa yang pernah terjadi. Mencoba mengingat
bagian mana yang sebenarnya menjadi akhir. Saat itu, tak pernah ada ucap pisah
antara kita. Waktu lah yang mengambil bagiannya. Kalian dengan kenyamanan
kalian. Dan aku dengan kerumitanku.
Untuk
kalian yang menyadari, temuilah aku di ujung pemberhentianku. Bantu aku
mengatasi ketakutan dan pekikku. Jangan tinggalkan aku sendiri lagi. Karena aku tak mau kembali menemui kerumitanku.

Komentar
Posting Komentar