Langsung ke konten utama

Surat, untukmu.



Mulanya, mungkin November.
Aku mengenalmu penuh seluruh.
Menyapa hangat, berharap dapat sambut.
Tak kusangka, salam saling bersahut.
Lagi, dan lagi,
Aku kembali seperti diriku, jatuh pada saat pertama.
Tak pernah malu akan apa-apa.
Kamu?
Membalas seadanya :)

Harapku kian jadi,
Aku berjalan ke mana-mana,
Menghampiri apa pun yang menjadi tujuanmu.
Rasanya kian tak terbendung,
Ingin sekali bertatap,
Tapi,
Jarak tampak sangat lebar,
menutup segala kemungkinan yang muncul.

Desember, tak ada apa-apa.
Hanya obrolan tak penting yang sebenarnya memang tak penting!

Januari, ada apa-apa.
Kamu berjalan ke arahku,
Aku tahu,
Mungkin kamu pikir aku tidak tahu?
Atau mungkin kamu tidak memikirkan aku?
Bisa jadi keduanya.
Ke arahku, bukan berarti menghampiriku,
Hanya saja jaraknya semakin mengecil.
Tapi,
Tak ada percakapan saat itu.
Bodoh.
Menyesal.

Februari, aku pergi.
Aku tahu, ini hanya tentang aku.
Aku sadar, aku terlalu mudah.
Mudah berharap, dan mudah menyerah.

Selamat tinggal!
Terima kasih, pernah mampir.
Walau sebenarnya belum benar-benar hadir.

*fotonya cuma ilustrasi kok, waktu naik ojol;)
*puisinya jg mungkin hanya imaji,
Jangan terlalu dipikir, aku hanya menulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada sang tuan, yang masih punya ruang di sini

November, 2020. Kalau boleh diskusi ulang dengan Tuhan, Sepertinya aku akan minta untuk sakit hati lebih panjang daripada memulai semuanya dengan Tuan Sebab, ku kira Tuan itu obatku, Ku kira aku akan sembuh, Dan ku kira, itu jadwalnya aku bisa tumbuh dan merasa lebih baik Tapi ternyata, aku terburu-buru Meng-'iya'-kan semuanya tanpa menunggu resep dari Tuhan Memang, awalnya bisa lebih baik, Sakitnya sedikit hilang,  Tapi, ternyata setelah beberapa kali mencoba, Ada beberapa efek yang membuatku berpikir bahwa obat itu bukan untuk aku Terus mencoba bersabar menunggu,  Seraya berpikir barangkali ada perbaikan Tapi, sepertinya aku memang harus lebih banyak berdiskusi dengan Tuhan. Apa memang Tuan ini obat yang ia kirim?  Atau aku harus mencobanya dulu sebelum dikasih obat yang sebenarnya? Terlepas dari apa yang Tuhan rencanakan, Kepercayaan dalam diriku sudah terbentuk begitu lama Meski sadar diri bisa salah,  tapi aku masih tetap percaya kalau Tuan bisa menyembuhkan, ha...

Pola Malam

Malam ini, malam ke 207968309732173097 Malam yang polanya terus berulang Namun celakanya, tidak ada yang tau bagaimana caranya menjadi pasti Semua terkotak dengan ruangnya sendiri Berjuang menghadapi semu yang kian hari, kian membuat jemu Tak terhitung berat air yang tertampung Tak terlihat raut rupa yang terbentuk Satu persatu menjadi sama, Hingga semuanya tampak serupa Beberapa kali aku mencari obat Agar setidaknya bisa berhenti walau sesaat, Tapi, memang dasar racunnya terlalu kuat Sampai pada akhirnya, pola yang sama kembali berkutat Persetan, kau malam! Sudahlah, Sampai jumpa Di ruang rindu, kita bertemu.

Ekspresi milikku.

Dalam hidup ini, ada berbagai bentuk gaya dalam berekspresi. Terserah kepadamu, pilih yang mana. Kalau aku, bentuk ekspresi favoritku adalah menjadi ekstra; (.)Senang, ekstra senang. (.)Marah, ekstra marah. (.)Kecewa, ekstra kecewa. (.)Sedih, ekstra sedih. Bentuk-bentuk ini sama, tapi dampaknya berbeda. Bentuk-bentuk ini terjadi karena aku tak pandai memilih. Favorit bagiku, belum tentu baik untukku. . Aku menjadi ekstra senang ketika bahagia muncul. Padahal, belum tentu ia menetap. Aku menjadi ekstra marah ketika keadaan memburuk. Padahal mungkin, ia hanya ingin menyapa. Aku menjadi ekstra kecewa ketika sesuatu terjadi di luar ekspektasi. Padahal mungkin, ia ingin memberi pelajaran. Aku menjadi ekstra sedih ketika yang aku punya pergi dan diambil. Padahal bisa jadi, itu memang bukan untukku. . Semua bentuk ekspresi di atas adalah caraku merespon. Kalau kita bertemu dan kamu ingin jauh mengenalku, tolong pelajari hal-hal yang aku sebutkan di atas. Setelah itu, mari ...