Langsung ke konten utama

Penggunaan Bahasa Indonesia Masa Kini dan Pengaruh Bahasa Inggris Terhadapnya

Bahasa Indonesia memiliki kedudukan sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Yang artinya, kita sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) memiliki kewajiban untuk menggunakan dan tetap melestarikannya. Namun, kenyataannya di lapangan berbeda. Bahasa Indonesia kini, sudah bukan lagi sebagai bahasa yang diprioritaskan. Ada bahasa sekunder yang sedikit demi sedikit mulai mencoba menggantikan posisi atau kedudukan bahasa Indonesia, yaitu bahasa Inggris.
Bahasa Inggris sudah ditetapkan sebagai bahasa internasional. Hal ini, secara tidak langsung memaksa kita untuk menguasai bahasa Inggris agar tidak menjadi orang yang tertinggal di era globalisasi ini. Terbukti sekarang banyak sekolah-sekolah yang mulai menerapkan sistem bilingual dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini juga terlihat dalam perkembangan dunia musik di Indonesia, terutama dalam ajang pencarian bakat. Bila ditelaah lebih jauh, terlihat hampir seluruh pesertanya lebih menguasai bernyanyi dalam bahasa Inggris ketimbang dalam bahasa Indonesia. Tak hanya itu, bahkan bahasa Inggris pun sudah mulai digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari di kalangan masyarakat kota. Mereka biasanya mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris, contohnya adalah para calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Dalam debat Pilkada DKI 2017 beberapa bulan kemarin, terlihat hampir seluruh paslon (pasangan calon) mencampur adukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Bahkan ada salah satu cagub yang banyak sekali menggunakan kosakata bahasa Inggris padahal padanan katanya terdapat dalam bahasa Indonesia.
Banyak alasan yang mendukung mengapa orang Indonesia menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa yang penting. Pertama, karena bahasa Inggris adalah bahasa Internasional. Kedua, karena berbicara dalam bahasa Inggris dianggap lebih keren dibanding dalam bahasa Indonesia. Ketiga, ada yang beralasan jika ada beberapa ungkapan yang ingin mereka ucapkan namun tidak ada padanan katanya dalam bahasa Indonesia, kalaupun ada akan lebih pas jika menggunakan bahas Inggris. Keempat, orang dianggap lebih cerdas jika bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Kelima, bahkan banyak remaja sekarang yang lebih percaya diri jika berbicara menggunakan bahasa Inggris. Alasan-alasan ini jelas membuat bahasa Indonesia semakin tidak dilihat atau bahkan membuatnya semakin dipandang rendah.
Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) sudah sepatutnya kita menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Ini bukan berarti kita tidak boleh berbahasa Inggris atau pun bahasa luar negeri lainnya tapi utamakanlah dulu bahasa Indonesia. Mulailah untuk tidak memandang rendah bahasa Indonesia, tapi justru perkenalkanlah dengan bangga bahasa Indonesia ke jenjang internasional.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kepada sang tuan, yang masih punya ruang di sini

November, 2020. Kalau boleh diskusi ulang dengan Tuhan, Sepertinya aku akan minta untuk sakit hati lebih panjang daripada memulai semuanya dengan Tuan Sebab, ku kira Tuan itu obatku, Ku kira aku akan sembuh, Dan ku kira, itu jadwalnya aku bisa tumbuh dan merasa lebih baik Tapi ternyata, aku terburu-buru Meng-'iya'-kan semuanya tanpa menunggu resep dari Tuhan Memang, awalnya bisa lebih baik, Sakitnya sedikit hilang,  Tapi, ternyata setelah beberapa kali mencoba, Ada beberapa efek yang membuatku berpikir bahwa obat itu bukan untuk aku Terus mencoba bersabar menunggu,  Seraya berpikir barangkali ada perbaikan Tapi, sepertinya aku memang harus lebih banyak berdiskusi dengan Tuhan. Apa memang Tuan ini obat yang ia kirim?  Atau aku harus mencobanya dulu sebelum dikasih obat yang sebenarnya? Terlepas dari apa yang Tuhan rencanakan, Kepercayaan dalam diriku sudah terbentuk begitu lama Meski sadar diri bisa salah,  tapi aku masih tetap percaya kalau Tuan bisa menyembuhkan, ha...

Pola Malam

Malam ini, malam ke 207968309732173097 Malam yang polanya terus berulang Namun celakanya, tidak ada yang tau bagaimana caranya menjadi pasti Semua terkotak dengan ruangnya sendiri Berjuang menghadapi semu yang kian hari, kian membuat jemu Tak terhitung berat air yang tertampung Tak terlihat raut rupa yang terbentuk Satu persatu menjadi sama, Hingga semuanya tampak serupa Beberapa kali aku mencari obat Agar setidaknya bisa berhenti walau sesaat, Tapi, memang dasar racunnya terlalu kuat Sampai pada akhirnya, pola yang sama kembali berkutat Persetan, kau malam! Sudahlah, Sampai jumpa Di ruang rindu, kita bertemu.

Ekspresi milikku.

Dalam hidup ini, ada berbagai bentuk gaya dalam berekspresi. Terserah kepadamu, pilih yang mana. Kalau aku, bentuk ekspresi favoritku adalah menjadi ekstra; (.)Senang, ekstra senang. (.)Marah, ekstra marah. (.)Kecewa, ekstra kecewa. (.)Sedih, ekstra sedih. Bentuk-bentuk ini sama, tapi dampaknya berbeda. Bentuk-bentuk ini terjadi karena aku tak pandai memilih. Favorit bagiku, belum tentu baik untukku. . Aku menjadi ekstra senang ketika bahagia muncul. Padahal, belum tentu ia menetap. Aku menjadi ekstra marah ketika keadaan memburuk. Padahal mungkin, ia hanya ingin menyapa. Aku menjadi ekstra kecewa ketika sesuatu terjadi di luar ekspektasi. Padahal mungkin, ia ingin memberi pelajaran. Aku menjadi ekstra sedih ketika yang aku punya pergi dan diambil. Padahal bisa jadi, itu memang bukan untukku. . Semua bentuk ekspresi di atas adalah caraku merespon. Kalau kita bertemu dan kamu ingin jauh mengenalku, tolong pelajari hal-hal yang aku sebutkan di atas. Setelah itu, mari ...